<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Idaarifah's Weblog</title>
	<atom:link href="http://idaarifah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://idaarifah.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Feb 2009 09:26:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='idaarifah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Idaarifah's Weblog</title>
		<link>http://idaarifah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://idaarifah.wordpress.com/osd.xml" title="Idaarifah&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://idaarifah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Siapa Bilang Matematika Menyebalkan?</title>
		<link>http://idaarifah.wordpress.com/2009/02/05/siapa-bilang-matematika-menyebalkan/</link>
		<comments>http://idaarifah.wordpress.com/2009/02/05/siapa-bilang-matematika-menyebalkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 09:26:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>idaarifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idaarifah.wordpress.com/2009/02/05/siapa-bilang-matematika-menyebalkan/</guid>
		<description><![CDATA[Siapa Bilang Matematika Menyebalkan? Judul Buku: Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian Penulis: Adi W. Gunawan Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2007 Cukup banyak keluhan dari guru dan orang tua siswa mengenai kegagalan pengajaran matematika di sekolah dasar. Kegagalan ini tercermin juga dari sikap siswa yang mencerminkan kengerian mereka terhadap pelajaran matematika. Ini tampak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=7&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa Bilang Matematika Menyebalkan? Judul Buku: Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian Penulis: Adi W. Gunawan Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2007 Cukup banyak keluhan dari guru dan orang tua siswa mengenai kegagalan pengajaran matematika di sekolah dasar. Kegagalan ini tercermin juga dari sikap siswa yang mencerminkan kengerian mereka terhadap pelajaran matematika. Ini tampak dari penyebutan pelajaran matematika sebagai pelajaran “mati-matian” misalnya. Atau pada kasus lain, ada siswa yang mengatakan bahwa dirinya “bodoh” dalam pelajaran matematika. Sekedar memberikan dua contoh kegagalan pengajaran matematika di samping masih banyak contoh kegagalan yang lain. <span id="more-7"></span> Penulis sebagai seorang guru, mengajak kepada para guru agar tidak selalu “tiarap” dalam mengajar. Akan tetapi ketika meneriakkan tuntutan kesejahteraan berteriak lantang. Kesejahteraan guru, walaupun dengan persyaratan berpendidikan sarjana strata satu (S 1) dan telah mengikuti sertifikasi guru, setidaknya sudah mulai ada harapan yang cerah. Saat ini permasalahan kualitas pendidikan kembali kepada guru. Guru yang tiarap, artinya guru yang tidak melakukan sesuatu yang berarti. Guru yang tidak berani menampakkan diri di hadapan ribuan profesi yang menjanjikan, adalah guru yang tidak kreatif. Hanya menuntut akan tetapi tidak berbuat apa-apa agar orang lain menilai positif. Buku karya Adi W. Gunawan ini memberikan jalan bagi guru di sekolah dasar dan para orang tua yang memiliki anak yang bersekolah di kelas rendah untuk memulai pelajaran matematika dengan cara yang menyenangkan. Daftar perkalian nol sampai sepuluh yang berjumlah 121 fakta, sering menjadi beban berat bagi anak untuk menghafalkannya. Apalagi jika guru dan orang tua tidak memiliki teknik terbaik untuk mengajarkan perkalian ini. Anak mungkin melakukan kegiatan menghafalkan ini dengan teknik pengulangan, yaitu mengulang fakta-fakta tentang perkalian. Menurut Adi W. Gunawan, untuk menguasai perkalian, seorang anak hanya perlu menghafalkan 18 fakta perkalian. Itu pun tidak semuanya harus dihafalkan karena ada teknik penjumlahan yang mudah untuk membantunya. Perkalian dua tidak perlu dihafalkan karena dapat dilakukan dengan menjumlahkan bilangan itu dengan bilangan itu. Secara umum dapat dikatakan bahwa hanya ada 10 fakta perkalian saja yang harus dihafalkan, enam di antaranya mudah. Perkalian yang harus dihafalkan hanyalah 6&#215;6, 6&#215;7, 6&#215;8, 7&#215;7, 7&#215;8, dan 8&#215;8. Buku ini memberikan alternatif mengurangi fakta yang harus dihafalkan karena adanya sifat komutatif perkalian, yaitu walaupun dibolak-balik, hasilnya tetap sama contohnya 7&#215;8 = 8&#215;7. Perkalian dengan bilangan nol dan perkalian dengan bilangan satu tidak perlu dihafalkan. Cukup bagi anak diberi penjelasan bahwa perkalian dengan nol hasilnya selalu nol, sedangkan perkalian dengan bilangan 1 hasilnya selalu bilangan itu. Begitu juga perkalian dengan bilangan 10 yang cukup menambahkan angka nol di belakang bilangan itu. Dengan menggabungkan pengurangan fakta perkalian dan jurus jari sakti – begitu Adi W. Gunawan menyebutnya – kegiatan menguasai perkalian menjadi sangat mudah. Buku ini juga menawarkan alternatif terapi bagi siswa yang terlanjur membenci matematika atau guru matematikanya. Ada juga alternatif pembayangan visual untuk teknik menghafalkan fakta perkalian yang sulit bagi anak. Buku ini disampaikan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami. Buku ini pantas untuk dimiliki dan dipraktikkan oleh guru-guru sekolah dasar bahkan taman kanak-kanak. Tentu saja, bagi anak yang sudah terlanjur duduk di kelas yang lebih tinggi akan tetapi masih membenci matematika, orang tuanya dapat menerapkan teknik ini. Kabar baiknya lagi, buku ini dapat diperoleh di salah satu toko buku yang terletak di Jalan Pakunegara di Pangkalan Bun. Ida Arifah Praktisi Pendidikan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/idaarifah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/idaarifah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/idaarifah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/idaarifah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/idaarifah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/idaarifah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/idaarifah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/idaarifah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/idaarifah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/idaarifah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/idaarifah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/idaarifah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/idaarifah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/idaarifah.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=7&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idaarifah.wordpress.com/2009/02/05/siapa-bilang-matematika-menyebalkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/effad12cb323753a20d8a11eb3cabeb9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">idaarifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Permainan “Merebut Roti”  dalam Ujian Nasional</title>
		<link>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/permainan-%e2%80%9cmerebut-roti%e2%80%9d-dalam-ujian-nasional/</link>
		<comments>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/permainan-%e2%80%9cmerebut-roti%e2%80%9d-dalam-ujian-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 14:37:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>idaarifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/permainan-%e2%80%9cmerebut-roti%e2%80%9d-dalam-ujian-nasional/</guid>
		<description><![CDATA[Ujian Nasional masih cukup jauh di hadapan kita, namun suasananya sudah begitu terasa. Lihat saja di sekolah-sekolah. Kegiatan belajar tambahan sudah dimulai. Di beberapa sekolah bahkan sudah dimulai semenjak libur semester. Dengan keadaan siaga semacam ini, tidak terbayangkan bagaimana hilangnya keceriaan masa muda dalam kehidupan para siswa. Terbayang bagaimana mereka harus berhadapan dengan sebuah episode [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=6&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ujian Nasional masih cukup jauh di hadapan kita, namun suasananya sudah begitu terasa. Lihat saja di sekolah-sekolah. Kegiatan belajar tambahan sudah dimulai. Di beberapa sekolah bahkan sudah dimulai semenjak libur semester.<br />
Dengan keadaan siaga semacam ini, tidak terbayangkan bagaimana hilangnya keceriaan masa muda dalam kehidupan para siswa. Terbayang bagaimana mereka harus berhadapan dengan sebuah episode yang disebut ujian nasional. Apalagi target capaian minimal nilai ujian nasional dari tahunke tahun semakin tinggi. Padahal kita semua tahu, keadaan di sekolah-sekolah tidak terdapat perubahan yang berarti yang dapat mendukung peningkatan raihan itu. Yang bisa dilakukan sekolah adalah megadakan kegiatan tembahan pelajaran. Sebuah kegiatan yang membebani guru, siswa, dan orang tua.<span id="more-6"></span><br />
Dalam buku Guru yang Efektif, Thomas Gordon (1990), menggambarkan keadaan ini sebagai sebuah permainan yang diberi nama “Merebut Roti”. Pada permainan ini berlaku cara dengan mengikat roti dalam plastik yang tertutup yang digantungkan agak tinggi. Anak-anak diminta melompat dan meraih roti tersebut. Siapa yang dapat melompat lebih tinggi akan dapat meraih roti tersebut. Apabila roti tersebut  telah dapat dicapai oleh salah seorang siswa, maka akan diganti roti baru yang digantungkan lebih tinggi. Makin lama roti itu akan tergantung lebih tinggi.<br />
Model permainan “Merebut Roti” seperti itu berlaku di sekolah-sekolah, dan masyarakat pun menyetujuinya. Orang tua dan masyarakat pun melakukan hal yang sama. Guru akan menggunakan “hadiah” untuk memotivasi siswanya. Bila siswa dapat memenuhi tuntutan nilai tertentu, guru akan memberikan hadiah. Begitu pula yang berlaku di masyarakat. Sebaliknya bila siswa gaggal, mereka akan mendapatkan hukuman. Cara ini, menurut Thomas Gordon, telah diwariskan secara turun temurun.<br />
Permainan “Merebut Roti” tampaknya pasti dapat memotivasi siswa untuk berpacu. Ini seperti yang sering diungkapkan oleh Wakil Presiden, Yusuf  Kalla ketika menanggapi keberatan pelaksanaan ujian nasional dan kenaikan standar nilai kelulusan. Namun penelitian tentang reaksi siswa terhadap masalah ini tampaknya tidak dijalankan. Guru yang lebih tahu suasana belajar siswa-siswanya dapat melihat, bagaimana siswa-siswa telah kehilangan kegembirannya pada bulan-bulan mereka mendekati waktu ujian. Bagi siswa yang berprestasi secara akademis, menghadapi ujian bukan masalah yang besar.<br />
Gordon mengatakan bahkan reaksi siswa dalam permainan “Merebut Roti”mungkin sangat menakjubkan. Bagi murid yang merasa bahwa roti itu terlalu tinggi untuk diraih, dia tidak mau meraihnya lagi karena ketika digantung tidak terlalu tinggi saja mereka tidak mampu meraihnya. Meraih roti yang lebih tinggi adalah perbuatan sia-sia bagi kelompok siswa ini.<br />
Siswa dalam kelompok lain mungkin mengeluh bahwa dia sudah berusaha melompat setinggi mungkin, namun lompatannya ternyata tidak setinggi yang diharapkan karena memang kemampuannya terbatas. Siswa kelompok lain mungkin akan meninggalkan permainan ini karena merasa kecewa karena hanya temannya yang berhasil sedangkan dia selalu gagal. Dia merasa bodoh dan tidak dapat melakukan apa-apa.<br />
Kalau kita cermati, pelaksanaan ujian nasional kita tidak berbeda dari permainan “Merebut Roti”. Semakin tahun standar kelulusan semakin tingi, bahkan mata pelajaran yang diujikan pun bertambah. Dengan tiga mata pelajaran ang diujikan saja banyak siswa yang merasa keberatan, apalagi dengan tambahan mata pelajaran yang diujikan.<br />
Tampaknya permainan semakin seru. Pemerintah semakin tinggi menggantung roti. Pemerintah melupakan banyak hal dalam pelaksanaan ujian nasional. Salah satunya adalah laboratorium IPA. Penambahan mata pelajaran IPA untuk diujinasionalkan menambah beban siswa. Kita masih ingat, bagaimana peserta Olimpiade Sain mengeluh kurangnya praktik di laboratorium. Kelemahan peserta olimpiade sain adalah pada praktik. Pada uji teori mereka unggul. Kenyataan seperti ini masih juga terabaikan.<br />
Sekarang ini, sekitar tiga bulan menjelang ujian akhir,  bukan hanya siswa yang kebingungan. Guru, sekolah, dan orang tua juga bingung mau bersikap bagaimana. Yang nyata menjadi korban saat ini adalah kegembiraan para siswa. Juga kehilangan waktu keluarga bagi guru-guu yang menyediakan waktunya untuk menyelenggarakan pelajaran tambahan.<br />
Sore hari yang biasanya menciptakan rasa gembira karena digunakan untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang menjadi minat siswa, sekarang harus dilupakan. Kenyataan yang ada di depan mata mereka adalah “Roti “ yang tergantung lebih tinggi. Kita semua tahu, ada tiga reaksi yang mungkin muncul. Pertama, siswa akan menghadapinya karena mampu. Kedua, siswa akan terus berusaha sampai berhasil meskipun dengan kemungkinan gagal. Ketiga, siswa bersikap masa bodoh karena sudah yakin dirinya tidak mampu.<br />
Bagaiman kalau kelompok kedua dan ketiga jumlahnya sangat banyak? Mestinya pemerintah malu karena tidak ma(mp)u menyediakan bekal bagi siswa dengan kondisi sekolah yang lebih baik dan merata di seluruh Indonesia.</p>
<p>Ida Arifah<br />
Guru, tinggal di Kumai</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/idaarifah.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/idaarifah.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/idaarifah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/idaarifah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/idaarifah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/idaarifah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/idaarifah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/idaarifah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/idaarifah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/idaarifah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/idaarifah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/idaarifah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/idaarifah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/idaarifah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/idaarifah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/idaarifah.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=6&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/permainan-%e2%80%9cmerebut-roti%e2%80%9d-dalam-ujian-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/effad12cb323753a20d8a11eb3cabeb9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">idaarifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari Guru,  Saatnya Merenungkan Diri</title>
		<link>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/hari-guru-saatnya-merenungkan-diri/</link>
		<comments>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/hari-guru-saatnya-merenungkan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 14:33:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>idaarifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/hari-guru-saatnya-merenungkan-diri/</guid>
		<description><![CDATA[November, tepatnya tanggal 25, adalah saat yang tepat untuk merenungkan diri. Saatnya berintrospeksi melakukan evaluasi diri bagi para guru dan semua bangsa Indonesia ini. Introspeksi bagi guru adalah keharusan. Lalu bagaimana dengan bangsa ini? Sebuah bangsa tidak mungkin dibangun tanpa guru. Masyarakat adalah guru bagi semua bangsa. Masyarakat adalah guru yang sebenarnya. Hitam putihnya sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=5&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>November, tepatnya tanggal 25, adalah saat yang tepat untuk merenungkan diri. Saatnya berintrospeksi melakukan evaluasi diri bagi para guru dan semua bangsa Indonesia ini.<span id="more-5"></span><br />
Introspeksi bagi guru adalah keharusan. Lalu bagaimana dengan bangsa ini?<br />
Sebuah bangsa tidak mungkin dibangun tanpa guru. Masyarakat adalah guru bagi semua bangsa. Masyarakat adalah guru yang sebenarnya. Hitam putihnya sebuah bangsa ditentukan oleh masyarakatnya. Guru hanyalah sebuah fungsi ketika pendidikan diformalkan.<br />
Akibat dari formalisasi lembaga pendidikan ini, guru menjadi fungsi yang harus diadakan karena tuntutan untuk ada. Guru menjadi sebuah pekerjaan yang dilatarbelakangi oleh sistem perekonomian. Artinya, pekerjaan sebagai guru, menjadi seperti halnya seorang ahli mekanik.<br />
Tidak banyak guru yang melakukan protes dengan cara berdemonstrasi untuk menuntut kenaikan gaji. Guru menjadi santun, karena fungsi guru sebagai model bagi masyarakatnya. Jadi tidaklah layak pada hari guru ini jika diperingati seperti halnya Hari Buruh yang berkecenderungan untuk diperingati dengan demontrasi di mana-mana.<br />
Kalau masyarakat  banyak menuntut guru karena guru tidak profesional dalam mengelola kelas, tentu bukan asal tuding. Kita tidak bisa menutup mata, tidak bisa menutup-nutupi adanya guru (bukan oknum) yang berkeliaran di luar sekolah pada jam-jam kerja.<br />
Sebagian guru/sekolah menganut aturan jam mengajar. Ini tidak tepat untuk semua guru, karena guru yang pegawai negeri tentunya lebih tepat jika menggunakan sistem jam kerja seperti pegawai negeri yang lain. Guru pegawai negeri adalah pekerja penuh, bukan pekerja paruh waktu (part time).<br />
Akan tetapi, lagi-lagi karena ini Indonesia, bukan hanya guru yang gajinya seringkali tidak cukup untuk hidup sebulan yang punya pekerjaan sambilan pada jam kerja. Banyak jabatan lain yang kondisinya menjadikan pekerjaan sampingan harus dikerjakan saat beraktifitas dalam pekerjaan pokoknya.<br />
Kalau masyarakat banyak yang menyorot guru karena menjual buku kepada siswa, akhir-akhir ini terungkap pula bahwa LP menjadi pasar obat-obatan terlarang, atau BUMN dijadikan kedok untuk melancarkan bisnis impor tabung gas. Masih cukup banyak contoh lain di lembaga pemerintahan yang lain.<br />
Penyakit moralitas dan keadilan bangsa ini sudah kronis, sudah menjalar ke seluruh urat darah kehidupan bangsa Indonesia. Saat ini yang diperlukan bangsa Indonesia adalah perubahan total di hampir semua sendi kehidupan berbangsa.<br />
Kembali pada renung diri. Para guru, walaupun tidak banyak terdengar suaranya, tapi tuntutan untuk meraih kesejahteraan yang lebih baik begitu terasa. Para guru pun harus merenung diri, apakah sudah maksimal tindakan para guru untuk mencerdaskan bangsa. Mencerdaskan bangsa tidak cukup hanya dengan meningkatkan intelejensi anak didik saja. Menurut Thomas Armstrong, ada delapan kecerdasan yang menjadi potensi manusia. Di Indonesia, jumlah kecerdasan bahkan menjadi sembilan macam.<br />
Masihkan kita, para guru, tidak peduli dengan masa depan bangsa yang lebih baik?<br />
Selamat Hari Guru! Besiaplah menyongsong perubahan zaman.</p>
<p>Ida Arifah<br />
praktisi pendidikan,<br />
tinggal di Kumai</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/idaarifah.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/idaarifah.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/idaarifah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/idaarifah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/idaarifah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/idaarifah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/idaarifah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/idaarifah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/idaarifah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/idaarifah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/idaarifah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/idaarifah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/idaarifah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/idaarifah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/idaarifah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/idaarifah.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=5&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/hari-guru-saatnya-merenungkan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/effad12cb323753a20d8a11eb3cabeb9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">idaarifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Mundira</title>
		<link>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/belajar-dari-mundira/</link>
		<comments>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/belajar-dari-mundira/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 14:31:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>idaarifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/belajar-dari-mundira/</guid>
		<description><![CDATA[Tidak banyak yang mengenal Mundira. Karena di satu sisi, Mundira adalah khayalan, dan di sisi yang lain, Mundira adalah kenyataan. Karena Mundira berada pada status vivere, bagai bayang-bayang bagi masing-masing sisi. Mundira dalam kasus ini adalah kenyataan, tapi penulis menyuguhkannya dibumbui dengan harapan. Lalu, mengapa Mundira? Mundira adalah tokoh khayalan yang mewakili jutaan anak sekolah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=4&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak banyak yang mengenal Mundira. Karena di satu sisi, Mundira adalah khayalan, dan di sisi yang lain, Mundira adalah kenyataan. Karena Mundira berada pada status vivere, bagai bayang-bayang bagi masing-masing sisi.<br />
Mundira dalam kasus ini adalah kenyataan, tapi penulis menyuguhkannya dibumbui dengan harapan. Lalu, mengapa Mundira?<span id="more-4"></span><br />
Mundira adalah tokoh khayalan yang mewakili jutaan anak sekolah di negeri ini. Ia terpaksa, atau dipaksa harus berhenti sekolah. Terpaksa karena ia diberhentikan dengan paksa. Hatinya tidak ingin berhenti sekolah, tetapi sikapnya menjadikan pihak sekolah memaksanya untuk berhenti.<br />
Bagaimana tidak menggemaskan bagi guru dan kepala sekolah ketika melihat kenyataan bahwa Mundira lebih banyak mendapatkan tanda A dalam daftar presensinya. Bagaimana tidak mengecewakan guru dan kepala sekolah ketika mendapat surat panggilan ia berlaku seperti para koruptor. Ia tidak memenuhi panggilan sekolah dengan berbagai alasan. Bagi sekolah, wajar kalau kemudian Mundira diberhentikan dari sekolah.<br />
Lalu bagaimana dengan Mundira sendiri?<br />
Mundira sangat menyesal karena ia harus mendekam di tahanan kepolisian satu malam. Lumayan sebagai sebuah percobaan. Mundira menyesal karena ia harus berhenti sekolah. Padahal baginya status sebagai anak sekolah sangat diperlukannya. Ia tidak ingin menjadi anak putus sekolah. Tetapi karena keterpaksaan itulah, Mundira harus berhenti sekolah.<br />
Mundira juga dipaksa harus berhenti sekolah karena pihak sekolah sudah mengeluarkan surat pemberhentian. Dipaksanya ia karena setelah mendapat surat pemberhentian itu ia mengancam guru-guru dan kepala sekolah dengan sepotong kayu. Padahal Mundira mendambakan sekolah yang menggembirakan.<br />
Menyesal tentu ada. Tetapi, ada apa di balik itu semua? Apakah cerita di atas fiktif atau cerita seperti di atas berlaku merata di seluruh negeri ini?<br />
Bukan tanpa alasan kalau banyak siswa yang putus sekolah. Biaya pendidikan yang mahal adalah salah satu penyebab tingginya tingkat putus sekolah. Terpencilnya suatu daerah sehingga pemerintah tidak (belum?) memperhatikan pendidikan daerah khusus juga menyebabkan anak putus sekolah. Mungkin juga putus sekolah seperti kasus Mundira bukan disebabkan oleh ketidakmampuan membiayai sekolah dan jauhnya sekolah dari tempat tinggal.<br />
Membaca buku Totto Chan yang begitu inspiratif, mungkin sekali Mundira mengalami hal yang sama dengan Totto. Ia bosan dengan suasana belajar yang monoton searah. Ia juga jenuh dengan pengajaran yang lebih banyak bersifat indoktrinasi. Tidak terjadi dialog antara guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Begitu parahnya dunia pendidikan.<br />
Sebenarnya tidak sedikit guru yang inspiratif, yang kreatif, yang menarik bagi siswa, dan yang mengajak siswa mendialogkan bahan-bahan pelajaran. Sistem pendidikan  dan otoritas di sekolah seringkali menjadikan guru-guru yang semacam itu tidak terakomodasi. Kemudian yang banyak muncul adalah guru-guru yang super sibuk dengan urusannya masing-masing. Celakanya, kesibukan guru itu seringkali mengalahkan kewajiban utamanya. Guru sering menganggap bahwa jam mengajar adalah kewajibannya. Walaupun guru itu PNS seringkali menganggap jam mengajar adalah kewajibannya. Padahal kalau dibandingkan dengan PNS yang lain, mereka mempunyai jam kerja wajib fulltime. Tentunya bagi  guruPNS, kewajibannya sama dengan PNS lain, ada jam kerja yang wajib dipenuhi, dan jam mengajar yang harus dilakukan di dalam kelas.<br />
Sistem penggajian yang minim, menjadikan pimpinan sekolah bersikap permisif terhadap guru yang meninggalkan jam kerjanya. Anggapan bahwa kalau guru sudah mengajar dianggap sudah memenuhi kewajiban kerja, karena pimpinan sekolah menyadari, guru harus punya kesempatan mendapatkan penghasilan yang lain untuk menutupi kebutuhannya. Bukankah banyak juga pejabat yang memanfaatkan jabatannya untuk memenuhi dompetnya sendiri.<br />
Ada cerita yang bagus dalam Eagle Award yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi di Indonesia. Salah satu pesertanya menampilkan sosok kepala sekolah yang di luar jam kerjanya bekerja menjadi pemulung. Bagi sebagian guru, tentu ada yang beranggapan, bodohnya kepala sekolah ini. Mengapa tidak memanfaatkan kepintarannya saja dengan memberikan les, misalnya.<br />
Jawaban sederhana tapi begitu menyentuh muncul dari  mulut sang kepala sekolah. Bagaimana mau bisa konsentrasi memberikan les, dan siswa berkonsentrasi belajar, kalau siswa sudah belajar sampai jam 15.00.<br />
Apakah ini sebuah ironi? Tentu saja ya. Kondisi ketika cukup banyak orang yang memanfaatkan kesempatan untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara yang dianggap “tidak halal”, kepala sekolah ini memberikan nuansa yang lain dalam mencari tambahan.<br />
Sungguh aneh kalau ada yang masih bersikap masa bodoh dan berlagak pilon dengan tetap bekerja merugikan para siswanya setelah menyaksikan Kepala Sekolahku Pemulung. Tidaklah aneh kalau film dokumenter itu meraih beberapa penghargaan, karena film ini memandang guru dari sisi yang lain. Guru yang paut dipuji dan menjadi inspirasi bagi guru-guru yang lain.<br />
Para pejabat penentu kebijakan dalam dunia pendidikan pun masuk dalam sistem yang sama, sehingga tidak mampu memperingatkan bawahannya yang tidak mengingatkan guru  yang berlaku demikian, bahkan mereka pun membiarkannya saja. “Itu bukan masalah, selama tidak mempermalukan korps”. Nyatanya, masih saja ada kepala sekolah yang di mata para gurunya tidak berprestasi dan tidak komunikatif, tetap dipertahankan kedudukannya.<br />
Apakah ini hanya terjadi di Indonesia? Mudah-mudahan tidak, kan?</p>
<p>Ida Arifah<br />
Guru, tinggal di Kumai</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/idaarifah.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/idaarifah.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/idaarifah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/idaarifah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/idaarifah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/idaarifah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/idaarifah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/idaarifah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/idaarifah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/idaarifah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/idaarifah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/idaarifah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/idaarifah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/idaarifah.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/idaarifah.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/idaarifah.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=4&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/belajar-dari-mundira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/effad12cb323753a20d8a11eb3cabeb9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">idaarifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyalahkan Siklus, Melempar Tanggung Jawab</title>
		<link>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/menyalahkan-siklus-melempar-tanggung-jawab/</link>
		<comments>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/menyalahkan-siklus-melempar-tanggung-jawab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 14:29:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>idaarifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/menyalahkan-siklus-melempar-tanggung-jawab/</guid>
		<description><![CDATA[Akhir 2007, pusat perhatian mata seluruh penduduk jagat terpusat ke Bali. Seluruh warga dunia membicarakan climate change yang terasa mulai menghantui kehidupan manusia. Beberapa peneliti segera menuju Puncak Jaya di pegunungan Jayawijaya, Papua, untuk menikmati salju terakhir di daerah tropis. Akhir Januari 2008, BMG memprediksikan pada bulan Februari akan terjadi puncak musim hujan. Terbukti kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=3&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir 2007, pusat perhatian mata seluruh penduduk jagat terpusat ke Bali. Seluruh warga dunia membicarakan climate change yang terasa mulai menghantui kehidupan manusia. Beberapa peneliti segera menuju Puncak Jaya di pegunungan Jayawijaya, Papua, untuk menikmati salju terakhir di daerah tropis.<span id="more-3"></span><br />
Akhir Januari 2008, BMG memprediksikan pada bulan Februari akan terjadi puncak musim hujan. Terbukti kemudian semua orang tertegun-tegun karena ibukota lumpuh oleh banjir. Bahkan presiden harus berganti mobil karena terjebak banjir. Banjir di Jakarta semakin meluas sampai pintu negeri ini, Bandara Sukarno Hatta lumpuh lebih dari lima jam.<br />
Para peneliti dan para ahli sebagian mengatakan gejala ini adalah akibat siklus iklim global. Masyarakat pun mengamininya dengan latah mengiyakan ini akibat siklus iklim. Masyarakat selalu mengatakan, sekian tahun yang lalu juga terjadi banjir semacam ini. Begitu pula para ahli.<br />
Kembali ke ibukota negeri ini, banjir tejadi semanjak zaman dahulu. Ini terbukti dengan usaha penguasa Hindia Belanda yang membangun banjir kanal di kota-kota pesisir temasuk Jakarta. Namun sayang, pembangunan banjir kanal ini tidak dilanjutkan, bahkan dilupakan sampai kemudian datang siklus banjir itu kembali.<br />
Sebagai sebuah siklus, kalau ini memang benar-benar sebuah siklus, tentu sudah bisa diprediksikan akan selalu berulang. Misalnya siklus lima tahunan, maka banjir akan terjadi lima tahun sekali. Tentunya jika memori masyarakat dan para ahli dan pengamat kuat dan konsisten, waktu empat tahun tidak terjadinya banjir dapat digunakan untuk mengingatkan dan menagih pemerintah untuk mempersiapkan siklus itu.<br />
Saat ini berbagai pihak yang berwenang dalam masalah banjir ini berusaha membela diri agar bisa lepas dari tanggung jawab. Dikatakanlah bahwa itu adalah siklus. Selesaikah masalahnya jika dikatakan bahwa banjir itu akibat siklus iklim? Tentu saja tidak. Seluruh warga negara harus bahu-membahu dengan pemerintah bersiap-siap menghadapi ancaman banjir. Banjir Kanal Timur di Jakarta semestinya segera direalisasikan. Ketakutan karena LSM dan sekelompok warga yang menghalagi pembebasan tanah semestinya diselesaikan dengan lebih santun. LSM pun semestinya segera menyadari bahwa penyelesaian masalah banjir lebih berhubungan dengan orang yang lebih banyak dari sekedar berkilo-kilometer lahan yang harus tergusur untuk pembangunan banjir kanal.<br />
Bagaimana di Kalimantan Tengah? Tidak berbeda. Apalagi wilayah ini lebih banyak memiliki dataran rendah dan tanah gambut. Keduanya rentan terkena bencana banjir dan kabut asap. Pengeringan lahan gambut dengan pembangunan drainase akan memicu kebakaran lahan gambut. Itu berulang setiap tahun, akan tetapi proyek pembangunan drainase di lahan gambut terus saja berjalan. Pengalaman kegagalan di Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar masih menyisakan kepedihan dan penderitaan. Tidak cukupkah itu menjadi pelajaran, atau kembali akan berkelit di balik siklus iklim?<br />
Tidak banyak yang memberi perhatian pada kejadian banjir di wilayah Kalimantan beberapa bulan terakhir ini. Sejumlah wilayah yang tidak biasa tergenang air, beberapa waktu belakangan ini tergenang. Apakah ini siklus juga? Atau penurunan permukaan tanah akibat eksplorasi air tanah? Atau kita tetap tidak mau belajar dari pengalaman? Apakah ini juga sebuah siklus? Lalu kita cuci tangan di balikj kata siklus?<br />
Perlu kita angkat dua ibu jari untuk sekelompok pemuda yang peduli pada abrasi yang terjadi di pesisir Kotawaringin Barat dan wilayah lainnya dengan penanaman mangrof. Ingat kasus pembalakan kayu hutan yang legal maupun ilegal beberapa tahun yang lalu. Para cukong kantungnya semakin tebal, tapi para pemuda yang kemudian menghijaukannya. Tak terdengar para pemilik HPH menghijaukan hutan yang telah ditebanginya.<br />
Menghadapi siklus iklim, rasanya kita perlu lebih mendengar kearifan lokal dan suara para ahli dan peneliti. Penelitian tentunya harus lebih digalakkan. Bukan sekadar berkelit dari masalah. Sudah terlalu banyak penderitaan warga di negeri ini.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/idaarifah.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/idaarifah.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/idaarifah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/idaarifah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/idaarifah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/idaarifah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/idaarifah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/idaarifah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/idaarifah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/idaarifah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/idaarifah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/idaarifah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/idaarifah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/idaarifah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/idaarifah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/idaarifah.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=3&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/menyalahkan-siklus-melempar-tanggung-jawab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/effad12cb323753a20d8a11eb3cabeb9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">idaarifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/hello-world/</link>
		<comments>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 14:26:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>idaarifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=1&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/idaarifah.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/idaarifah.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/idaarifah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/idaarifah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/idaarifah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/idaarifah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/idaarifah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/idaarifah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/idaarifah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/idaarifah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/idaarifah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/idaarifah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/idaarifah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/idaarifah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/idaarifah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/idaarifah.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=idaarifah.wordpress.com&amp;blog=2739158&amp;post=1&amp;subd=idaarifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idaarifah.wordpress.com/2008/02/04/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/effad12cb323753a20d8a11eb3cabeb9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">idaarifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
