Ujian Nasional masih cukup jauh di hadapan kita, namun suasananya sudah begitu terasa. Lihat saja di sekolah-sekolah. Kegiatan belajar tambahan sudah dimulai. Di beberapa sekolah bahkan sudah dimulai semenjak libur semester.
Dengan keadaan siaga semacam ini, tidak terbayangkan bagaimana hilangnya keceriaan masa muda dalam kehidupan para siswa. Terbayang bagaimana mereka harus berhadapan dengan sebuah episode yang disebut ujian nasional. Apalagi target capaian minimal nilai ujian nasional dari tahunke tahun semakin tinggi. Padahal kita semua tahu, keadaan di sekolah-sekolah tidak terdapat perubahan yang berarti yang dapat mendukung peningkatan raihan itu. Yang bisa dilakukan sekolah adalah megadakan kegiatan tembahan pelajaran. Sebuah kegiatan yang membebani guru, siswa, dan orang tua.
Dalam buku Guru yang Efektif, Thomas Gordon (1990), menggambarkan keadaan ini sebagai sebuah permainan yang diberi nama “Merebut Roti”. Pada permainan ini berlaku cara dengan mengikat roti dalam plastik yang tertutup yang digantungkan agak tinggi. Anak-anak diminta melompat dan meraih roti tersebut. Siapa yang dapat melompat lebih tinggi akan dapat meraih roti tersebut. Apabila roti tersebut telah dapat dicapai oleh salah seorang siswa, maka akan diganti roti baru yang digantungkan lebih tinggi. Makin lama roti itu akan tergantung lebih tinggi.
Model permainan “Merebut Roti” seperti itu berlaku di sekolah-sekolah, dan masyarakat pun menyetujuinya. Orang tua dan masyarakat pun melakukan hal yang sama. Guru akan menggunakan “hadiah” untuk memotivasi siswanya. Bila siswa dapat memenuhi tuntutan nilai tertentu, guru akan memberikan hadiah. Begitu pula yang berlaku di masyarakat. Sebaliknya bila siswa gaggal, mereka akan mendapatkan hukuman. Cara ini, menurut Thomas Gordon, telah diwariskan secara turun temurun.
Permainan “Merebut Roti” tampaknya pasti dapat memotivasi siswa untuk berpacu. Ini seperti yang sering diungkapkan oleh Wakil Presiden, Yusuf Kalla ketika menanggapi keberatan pelaksanaan ujian nasional dan kenaikan standar nilai kelulusan. Namun penelitian tentang reaksi siswa terhadap masalah ini tampaknya tidak dijalankan. Guru yang lebih tahu suasana belajar siswa-siswanya dapat melihat, bagaimana siswa-siswa telah kehilangan kegembirannya pada bulan-bulan mereka mendekati waktu ujian. Bagi siswa yang berprestasi secara akademis, menghadapi ujian bukan masalah yang besar.
Gordon mengatakan bahkan reaksi siswa dalam permainan “Merebut Roti”mungkin sangat menakjubkan. Bagi murid yang merasa bahwa roti itu terlalu tinggi untuk diraih, dia tidak mau meraihnya lagi karena ketika digantung tidak terlalu tinggi saja mereka tidak mampu meraihnya. Meraih roti yang lebih tinggi adalah perbuatan sia-sia bagi kelompok siswa ini.
Siswa dalam kelompok lain mungkin mengeluh bahwa dia sudah berusaha melompat setinggi mungkin, namun lompatannya ternyata tidak setinggi yang diharapkan karena memang kemampuannya terbatas. Siswa kelompok lain mungkin akan meninggalkan permainan ini karena merasa kecewa karena hanya temannya yang berhasil sedangkan dia selalu gagal. Dia merasa bodoh dan tidak dapat melakukan apa-apa.
Kalau kita cermati, pelaksanaan ujian nasional kita tidak berbeda dari permainan “Merebut Roti”. Semakin tahun standar kelulusan semakin tingi, bahkan mata pelajaran yang diujikan pun bertambah. Dengan tiga mata pelajaran ang diujikan saja banyak siswa yang merasa keberatan, apalagi dengan tambahan mata pelajaran yang diujikan.
Tampaknya permainan semakin seru. Pemerintah semakin tinggi menggantung roti. Pemerintah melupakan banyak hal dalam pelaksanaan ujian nasional. Salah satunya adalah laboratorium IPA. Penambahan mata pelajaran IPA untuk diujinasionalkan menambah beban siswa. Kita masih ingat, bagaimana peserta Olimpiade Sain mengeluh kurangnya praktik di laboratorium. Kelemahan peserta olimpiade sain adalah pada praktik. Pada uji teori mereka unggul. Kenyataan seperti ini masih juga terabaikan.
Sekarang ini, sekitar tiga bulan menjelang ujian akhir, bukan hanya siswa yang kebingungan. Guru, sekolah, dan orang tua juga bingung mau bersikap bagaimana. Yang nyata menjadi korban saat ini adalah kegembiraan para siswa. Juga kehilangan waktu keluarga bagi guru-guu yang menyediakan waktunya untuk menyelenggarakan pelajaran tambahan.
Sore hari yang biasanya menciptakan rasa gembira karena digunakan untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang menjadi minat siswa, sekarang harus dilupakan. Kenyataan yang ada di depan mata mereka adalah “Roti “ yang tergantung lebih tinggi. Kita semua tahu, ada tiga reaksi yang mungkin muncul. Pertama, siswa akan menghadapinya karena mampu. Kedua, siswa akan terus berusaha sampai berhasil meskipun dengan kemungkinan gagal. Ketiga, siswa bersikap masa bodoh karena sudah yakin dirinya tidak mampu.
Bagaiman kalau kelompok kedua dan ketiga jumlahnya sangat banyak? Mestinya pemerintah malu karena tidak ma(mp)u menyediakan bekal bagi siswa dengan kondisi sekolah yang lebih baik dan merata di seluruh Indonesia.
Ida Arifah
Guru, tinggal di Kumai